Tuesday, September 16, 2014

ASMA, bolehkah hamil?



oleh dr. Subagyo, Sp.P
Dokter Spesialis Paru
RS Pertamina Balikpapan
 
Tujuan pengobatan asma adalah mendapatkan asma yang terkontrol, yaitu keadaan yang optimal yang menyerupai orang sehat sehingga penderita dapat melakukan aktivitas seperti orang normal sehingga kualitas hidup penderita meningkat. Pada kondisi tertentu seperti kehamilan, puasa, infeksi saluran napas dll, pengobatan asma memerlukan perhatian khusus atau perubahan penatalaksanaan dari yang sudah ada dalam pedoman penatalaksanaan.

Selama  kehamilan, derajad keparahan penyakit asma bisa berubah sehingga memerlukan pengaturan jenis dan dosis obat yang dipakai. Penelitian retrospektif penyandang asma dengan kehamilan memperlihatkan bahwa selama kehamilan 1/3 penderita mengalami perburukan penyakit, 1/3 mengalami perbaikan dan 1/3 sisanya tidak mengalami perubahan derajad keparahan. Tidak ada pola yang khas apakah kehamilan pertama lebih baik atau buruk dan juga kehamilan berikutnya. Juga tidak harus sama apabila kehamilan pertama keadaan asmanya memburuk maka kehamilan berikutnya pasti memburuk, dan sebaliknya.

Pemberian obat selama kehamilan harus hati-hati, apalagi bila obat tersebut bekerja sistemik. Namun asma yang tidak terkontrol bisa menimbulkan masalah pada bayi berupa peningkatan kematian perinatal, pertumbuhan janin terhambat dan lahir prematur, peningkatan kejadian operasi Caesar, berat badan lahir rendah dan perdarahan postpartum. Prognosis bayi yang lahir dari ibu penyandang asma yang terkontrol total sama dengan prognosis bayi yang lahir dari ibu bukan penderita asma. 

Karena itu mengontrol asma selama kehamilan sangat penting untuk mencegah keadaan yang tidak diinginkan   pada ibu maupun janin yang dikandungnya. Apabila disiapkan sejak awal dengan baik, maka kehamilan dan persalinan akan berjalan normal sesuai dengan yang diharapkan. Umumnya semua obat asma dapat dipakai saat hamil kecuali yang mengandung komponen alfa-adrenergik, bromfeniramin dan epinefrin. Kortikosteroid sangat bermanfaat untuk mengontrol asma dan mencegah serangan akut atau eksaserbasi selama kehamilan. Bila terjadi serangan, harus segera ditangani secara agresif berupa pemberian inhalasi agonis beta-2, oksigen dan kortikosteroid sistemik.

Kesimpulan, penyandang asma boleh hamil namun perlu dievaluasi dan dipersiapkan dengan baik sehingga asmanya tetap terkontrol. Pemilihan obat pada penyandang asma yang sedang hamil:
  • Obat inhalasi
  • Obat-obat lama yang pernah dipakai pada kehamilan sebelumnya yang sudah terbukti aman.

No comments:

Post a Comment